Jakarta – Kebiasaan menggulir atau membaca berita dan unggahan bernada negatif di media sosial secara terus-menerus, yang dikenal sebagai doomscrolling, dapat memberikan dampak buruk terhadap kesehatan mental. Selain meningkatkan rasa cemas, kebiasaan ini juga berpotensi mengganggu kualitas tidur dan menurunkan kemampuan seseorang untuk berkonsentrasi.
Mengutip laman kesehatan Medical Daily, Jumat (10/7/2026), doomscrolling merupakan perilaku mengonsumsi informasi yang memicu rasa takut, cemas, atau khawatir secara berulang dalam waktu yang lebih lama dari yang direncanakan.
Fenomena ini semakin banyak ditemukan sejak pandemi COVID-19, ketika masyarakat mengandalkan internet dan media sosial sebagai sumber utama untuk memperoleh informasi terbaru mengenai perkembangan situasi.
Para peneliti menjelaskan bahwa otak manusia secara alami memiliki kecenderungan lebih peka terhadap ancaman dibandingkan informasi yang bersifat positif. Kondisi tersebut membuat seseorang lebih mudah tertarik pada berita buruk sehingga tanpa disadari terus mencari dan membaca informasi serupa, meski pada akhirnya justru meningkatkan tingkat stres.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa paparan berkepanjangan terhadap berita negatif berkaitan dengan meningkatnya tekanan psikologis. Sebuah studi yang dipublikasikan pada 2022 menemukan bahwa semakin tinggi paparan berita mengenai pandemi COVID-19, semakin besar pula risiko seseorang mengalami gangguan psikologis.
Hal senada juga disampaikan American Psychological Association (APA), yang menyebutkan bahwa paparan terus-menerus terhadap berita yang memicu stres dapat meningkatkan kecemasan, kelelahan emosional, bahkan memengaruhi kesejahteraan mental secara keseluruhan.
Kebiasaan doomscrolling juga kerap dilakukan menjelang waktu tidur. Selain paparan cahaya biru dari layar gawai yang dapat menghambat produksi hormon melatonin, konten yang menguras emosi membuat otak tetap berada dalam kondisi waspada sehingga seseorang menjadi lebih sulit untuk rileks dan tertidur.
Menurut Sleep Health Foundation, penggunaan perangkat digital sebelum tidur dapat menunda proses relaksasi tubuh dan menurunkan kualitas tidur. Akibatnya, seseorang dapat mengalami tidur yang tidak nyenyak, mudah terbangun, hingga merasa lelah saat bangun di pagi hari.
Selain berdampak pada kesehatan mental dan kualitas tidur, para peneliti menilai fitur-fitur media sosial seperti notifikasi otomatis, rekomendasi konten, serta fitur gulir tanpa batas (infinite scroll) turut mendorong pengguna terus mengakses informasi baru. Kebiasaan berpindah dari satu berita ke berita lain, diselingi video dan notifikasi, juga diduga berpengaruh terhadap kemampuan otak dalam mempertahankan fokus untuk jangka waktu yang lama.
Untuk mengurangi dampak negatif doomscrolling, para ahli menyarankan masyarakat membatasi waktu mengakses berita, terutama yang bersifat negatif, serta menghindari penggunaan media sosial menjelang waktu tidur.
Selain itu, mematikan notifikasi yang tidak penting, menetapkan batas waktu penggunaan gawai, serta mengganti waktu menatap layar dengan aktivitas yang lebih menyehatkan seperti berolahraga, membaca buku, atau bersosialisasi secara langsung dapat membantu menjaga kesehatan mental sekaligus meningkatkan kualitas tidur.(red/lis)
0 komentar:
Posting Komentar