Kediri – Guyub Nasrulloh Aji Wicaksono tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Bocah yang akrab disapa Nasrul itu berkali-kali membalik halaman koran yang baru saja diterimanya saat berkunjung ke kantor Jawa Pos Radar Kediri di Desa Gampeng, Kecamatan Gampengrejo, Selasa (8/7). Matanya berhenti pada foto sebuah pesawat di halaman depan.
Dengan wajah berbinar, ia menunjuk gambar itu sambil melontarkan berbagai pertanyaan. Bahkan, Nasrul meminta izin membawa pulang koran tersebut sebagai koleksi. Ketika melihat ada sedikit bercak minyak pada koran yang dipegangnya, ia polos meminta ditukar dengan yang lebih bersih. Tingkah spontan itu langsung mengundang tawa teman-teman seperjalanannya.
Di balik kepolosannya, Nasrul menyimpan kebanggaan besar. Ia menjadi satu dari enam Pramuka Berkebutuhan Khusus (PBK) yang akan mewakili Jawa Timur pada Jambore Nasional (Jamnas) XII Tahun 2026 di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata (Buperta) Cibubur, Jakarta Timur. Lebih istimewa lagi, mereka menjadi delegasi PBK pertama yang pernah dikirim Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kota Kediri.
Kunjungan ke Jawa Pos Radar Kediri merupakan bagian dari rangkaian pembekalan sebelum keberangkatan. Selain berlatih kepramukaan, para peserta diajak mengenal berbagai potensi daerah agar memiliki bekal wawasan ketika bertemu ribuan peserta dari seluruh Indonesia.
Pimpinan Kontingen Cabang Jamnas 2026 Kota Kediri, Sugeng Hariyanto, mengatakan pembekalan tidak hanya dilakukan di ruang latihan. Para peserta juga diajak mengunjungi sejumlah lokasi strategis seperti Bandara Dhoho, sentra tenun Bandar, tempat pengelolaan sampah, hingga kantor media.
"Anak-anak kami ajak melihat langsung potensi daerah supaya nanti mereka punya cerita dan pengalaman saat bertemu peserta dari daerah lain," ujarnya.
Tahun ini menjadi momen bersejarah bagi Kwarcab Kota Kediri. Selain mengirim 32 peserta reguler, untuk pertama kalinya mereka memberangkatkan enam anggota Pramuka Berkebutuhan Khusus, yakni Sadewa Ferdian Bagus Saputra, Samsuri, Guyub Nasrulloh Aji Wicaksono, Tiara Anggraini, Devian Eka Putri, dan Dzarianti Rohimah.
Keputusan tersebut lahir dari komitmen Kwarcab untuk menghadirkan ruang yang setara bagi seluruh anak.
"Kami ingin mereka mendapat kesempatan yang sama. Mereka juga berhak merasakan pengalaman menjadi peserta jambore seperti anggota pramuka lainnya," kata Sugeng.
Keenam peserta merupakan penyandang tunagrahita. Namun, keterbatasan itu bukan penghalang untuk belajar mandiri maupun berinteraksi dengan orang lain. Jamnas justru dipandang sebagai kesempatan emas untuk memperluas pengalaman, membangun kepercayaan diri, sekaligus bertemu sekitar 18 ribu peserta dari berbagai penjuru Indonesia.
"Jambore itu sejatinya pesta persaudaraan. Semua datang untuk bergembira sekaligus memperkenalkan daerah masing-masing. Karena itu, anak-anak PBK kami perlakukan sama seperti peserta lainnya," lanjut Sugeng.
Pembina PBK Kota Kediri, Moh. Ato' Sholahudin, menjelaskan proses memilih peserta tidak dilakukan secara sembarangan. Tim mendatangi sejumlah Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kota Kediri untuk mencari anak-anak yang memiliki tingkat kemandirian cukup baik dan siap tinggal jauh dari orang tua.
Tantangan terbesar justru datang dari kekhawatiran keluarga.
"Banyak orang tua yang awalnya ragu melepas anaknya ke Jakarta. Kami harus memberikan pemahaman bahwa mereka mampu dan akan didampingi selama kegiatan," ungkapnya.
Di balik keterbatasan yang dimiliki, masing-masing peserta ternyata memiliki prestasi membanggakan. Sebagian aktif sebagai atlet di bawah binaan National Paralympic Committee (NPC) dan rutin mengikuti berbagai kejuaraan.
"Setiap anak punya kelebihan masing-masing. Mereka memang memiliki keterbatasan, tetapi juga mempunyai kemampuan yang luar biasa," ujar Ato'.
Menurutnya, mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus membutuhkan kesabaran sekaligus pemahaman terhadap karakter masing-masing. Mereka tidak bisa dipaksa, tetapi harus diajak secara perlahan hingga merasa nyaman dengan lingkungan baru.
Beruntung, para peserta telah dibiasakan hidup mandiri sehingga mampu mengurus kebutuhan pribadi selama mengikuti kegiatan.
Sugeng bahkan mengaku sering terharu melihat sikap mereka.
"Mereka sangat sopan. Kalau meminta bantuan selalu diawali kata 'tolong'. Setelah kegiatan selesai, mereka selalu mengucapkan terima kasih dan bahkan meminta maaf karena merasa merepotkan pendamping. Padahal mendampingi mereka memang menjadi tugas kami," tuturnya.
Meski anak-anak sudah siap berbaur dengan peserta reguler, tantangan lain justru datang dari masyarakat yang belum memahami keberadaan Pramuka Berkebutuhan Khusus.
Pengalaman itu sempat dirasakan saat pelantikan Pramuka Garuda di Stadion Brawijaya beberapa waktu lalu. Karena barisan mereka berbeda dengan peserta reguler, ada warga yang sempat mempertanyakan.
"Setelah kami jelaskan bahwa mereka adalah anak-anak berkebutuhan khusus, baru orang itu memahami. Bagi kami, keberanian mereka tampil di hadapan ribuan peserta, bahkan di depan Wali Kota Kediri, sudah menjadi prestasi besar," kenang Sugeng.
Kini, seluruh persiapan hampir rampung. Kepercayaan diri mereka tumbuh seiring latihan dan dukungan dari para pembina serta teman-teman pramuka lainnya.
Agustus nanti, ketika ribuan peserta memenuhi Buperta Cibubur dengan yel-yel penuh semangat, enam anak istimewa asal Kota Kediri akan berdiri di antara mereka tanpa sekat.
Mereka datang bukan untuk meminta perlakuan khusus, melainkan untuk menunjukkan bahwa Gerakan Pramuka adalah ruang belajar yang terbuka bagi semua anak. Sebab, di balik setiap keterbatasan, selalu ada kesempatan untuk tumbuh, berprestasi, dan menginspirasi.(red/lis)
0 komentar:
Posting Komentar