Senin, 29 Juni 2026

Program MBG Berhenti Sementara, Harga Pangan Langsung Melorot

  

BELANJA: Pedagang di Pasar Tumenggungan melayani pembeli di tengah penurunan harga pada sejumlah komoditas.(photo by radar jogja)


KEBUMEN- Sejumlah harga komoditas pangan di Kabupaten Kebumen mengalami penurunan dalam sepekan terakhir. Pedagang menilai kondisi tersebut tidak terlepas dari berhentinya sementara operasional Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah yang berdampak pada berkurangnya permintaan bahan pangan di pasar.

Berdasarkan pantauan Radar Jogja di Pasar Tumenggungan, Senin (29/6/2026), penurunan harga terjadi pada berbagai komoditas, mulai dari daging ayam, telur, aneka sayuran, hingga bumbu dapur. Bahkan, beberapa jenis komoditas mengalami penurunan harga yang cukup signifikan dibandingkan pekan sebelumnya.

Salah satu komoditas yang mengalami penurunan tajam adalah cabai rawit. Jika sebelumnya dijual sekitar Rp60 ribu per kilogram, kini harganya turun menjadi Rp40 ribu per kilogram. Sementara itu, harga buncis yang semula mencapai Rp12 ribu per kilogram kini hanya berkisar Rp6 ribu per kilogram atau turun hingga 50 persen.

Pedagang sayur dan bumbu dapur di Pasar Tumenggungan, Laras Wahyuni, 43, mengatakan gejolak harga mulai terasa sejak kegiatan MBG dihentikan sementara mengikuti libur sekolah. Menurutnya, program tersebut selama ini menjadi salah satu penyerap hasil pertanian sehingga ketika permintaan berhenti, pasokan di pasar menjadi melimpah.

Ia menjelaskan, stok barang yang tetap tinggi sementara permintaan menurun membuat harga berbagai komoditas terkoreksi cukup cepat. Kondisi tersebut dirasakan hampir seluruh pedagang sayur di pasar tradisional.

"Dari MBG terakhir, harga-harga langsung turun," ujarnya kepada Radar Jogja.

Selain sayuran, harga telur ayam ras juga mengalami penurunan. Sebelumnya telur dijual sekitar Rp25 ribu per kilogram, kini turun menjadi Rp22 ribu per kilogram. Penurunan serupa terjadi pada komoditas bawang merah yang semula dibanderol Rp48 ribu per kilogram dan kini turun menjadi sekitar Rp45 ribu per kilogram.

"MBG libur, stok melimpah. Karena jarang yang ambil, harga jadi murah," katanya.

Kondisi serupa juga dirasakan pedagang daging ayam. Khodirin, 50, mengungkapkan harga ayam ras terus mengalami penurunan secara bertahap sejak memasuki masa libur sekolah. Sebelum libur, harga ayam berada di kisaran Rp33 ribu hingga Rp35 ribu per kilogram, sedangkan saat ini turun menjadi sekitar Rp30 ribu per kilogram.

Menurutnya, perubahan harga tersebut merupakan konsekuensi dari mekanisme pasar. Ketika permintaan dari program MBG berhenti sementara, pasokan yang tersedia tidak terserap secara maksimal sehingga harga ikut terkoreksi.

"Turun tiba-tiba mulai libur sekolah. MBG tidak narik barang lagi," jelasnya.

Ia memperkirakan tren penurunan harga masih akan berlangsung selama program MBG belum kembali berjalan secara normal. Selain dipengaruhi berhentinya sementara program tersebut, permintaan masyarakat juga dinilai menurun karena saat ini telah memasuki bulan Muharam atau Sura. Pada periode ini, sebagian masyarakat memilih tidak menggelar hajatan sehingga kebutuhan bahan pangan dalam jumlah besar ikut berkurang.

Akibatnya, pasokan komoditas di pasar menjadi berlebih dibandingkan tingkat konsumsi masyarakat. Kondisi tersebut membuat pedagang terpaksa menurunkan harga agar barang dagangannya tetap terserap.

"Harga mahal karena MBG. Sekarang libur, ya turun. Faktor lain mungkin sudah bulan Sura, jarang orang hajatan," tuturnya.

Di sisi lain, turunnya harga pangan disambut positif oleh masyarakat. Salah seorang pembeli sayuran, Hidayatun, 41, mengaku lebih lega karena belakangan harga berbagai kebutuhan pokok mulai kembali terjangkau.

Menurutnya, sejak program MBG berjalan, sejumlah komoditas pangan mengalami kenaikan yang berlangsung cukup lama. Padahal, selama ini ia terbiasa menghadapi kenaikan harga hanya pada momen tertentu seperti Idulfitri atau pergantian tahun.

"Pas Lebaran atau tahun baru biasanya naik. Ini kok di luar itu naiknya terus," ujarnya.

Para pedagang berharap harga komoditas ke depan dapat kembali stabil. Mereka menilai keseimbangan antara pasokan dan permintaan menjadi faktor utama agar harga tidak mengalami fluktuasi yang terlalu tajam, baik ketika program MBG kembali berjalan maupun saat memasuki musim-musim tertentu.(red/lis)

0 komentar:

Posting Komentar