Jumat, 30 Mei 2025

Puluhan Lapak PKL di Kediri Dibongkar, Pemkot Janjikan Solusi Penataan yang Lebih Baik

    


Kediri,  mataperistiwa.my.id   – Suasana pagi di Jalan Patiunus dan Jalan Joyoboyo, Kota Kediri, tampak berbeda dari biasanya, Kamis (30/5). Puluhan petugas dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) bersama tim gabungan melakukan penertiban dan pembongkaran terhadap bangunan semi-permanen milik pedagang kaki lima (PKL). Proses eksekusi berlangsung secara manual dengan tambahan alat berat di beberapa titik yang memerlukan penanganan khusus.

Meski sebelumnya masih terlihat beberapa PKL beraktivitas di lokasi hingga malam kemarin, pelaksanaan penertiban pagi ini berlangsung kondusif dan tanpa perlawanan. Penertiban ini merupakan bagian dari agenda besar Pemerintah Kota Kediri dalam menata kawasan kota agar lebih tertib, bersih, dan nyaman.

Kepala Satpol PP Kota Kediri, Syamsul Bahri, menjelaskan bahwa tindakan ini telah melalui proses panjang. “Ini merupakan tindak lanjut dari hasil pembahasan lintas sektor yang sudah dilakukan dalam beberapa bulan terakhir. Dari rapat terakhir yang kami lakukan, para pemilik lapak sudah menyatakan kesiapannya untuk ditertibkan,” ujar Syamsul saat ditemui di lokasi pembongkaran di Jl. Patiunus.

Syamsul menambahkan, sebagian besar PKL telah membongkar sendiri lapaknya sebelum petugas datang. “Mungkin karena mereka masih membutuhkan material bangunan seperti kayu atau seng untuk dipakai kembali. Tapi ada beberapa yang belum bisa membongkar, sehingga hari ini kami bantu eksekusi,” imbuhnya.

Berdasarkan data lapangan, sebanyak 24 lapak semi-permanen dibongkar di Jalan Patiunus, sementara di Jalan Joyoboyo, setidaknya ada sekitar 20-an lapak PKL yang diratakan. Bangunan-bangunan tersebut diketahui telah berdiri bertahun-tahun, sebagian bahkan dibangun di atas saluran air dan dilengkapi fasilitas seperti kamar mandi.

“Ke depan, Insya Allah Pemkot Kediri tetap memberikan ruang kepada para pedagang untuk berjualan, namun dengan ketentuan yang lebih tertib dan memperhatikan keindahan serta kebersihan lingkungan,” terang Syamsul.

Dalam pelaksanaan di lapangan, petugas dari Satpol PP dibantu pula oleh personel Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR). Lapak di kawasan Patiunus umumnya berbentuk permanen dan memerlukan tenaga tambahan serta peralatan berat seperti excavator untuk membersihkan sisa puing bangunan.

Langkah ini mendapat dukungan dari sejumlah warga yang berharap kawasan kota bisa lebih rapi dan terhindar dari genangan akibat saluran drainase yang tertutup bangunan. “Semoga setelah ini ada tempat yang lebih layak untuk para PKL agar bisa tetap berjualan tanpa mengganggu tata kota,” ujar salah satu warga sekitar.

Dengan penertiban ini, Pemkot Kediri menegaskan komitmennya untuk membangun ruang kota yang ramah bagi semua pihak—baik pedagang maupun masyarakat umum—dengan tetap mengedepankan asas musyawarah dan keadilan.(red.al)

Tiga Calon PMI Mengaku Jadi Korban TPPO dan Kekerasan, PT NSP Cabang Malang Disorot di Persidangan

     


MALANG,  mataperistiwa.my.id    –Dugaan praktik perdagangan orang kembali mencuat dalam sidang lanjutan kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang menyeret dua orang pengelola PT Nusa Sinar Perkasa (NSP) Cabang Malang, yaitu Hermin Ningsih Rahayu dan Dian Permana alias Ade. Dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Kelas IA Malang, Rabu (28/5/2025), tiga saksi korban hadir memberikan kesaksian yang menguatkan dakwaan jaksa.

Ketiga saksi tersebut adalah Suryani, Hanifah, dan Widya. Mereka merupakan calon pekerja migran yang sempat menjalani pelatihan di bawah naungan PT NSP. Dalam persidangan, ketiganya membeberkan perlakuan tidak layak, mulai dari dugaan eksploitasi tenaga kerja, hingga kekerasan verbal dan fisik yang mereka alami selama berada dalam pengawasan Hermin dan Dian.

"Saya tidak menyangka pengalaman saya akan berujung seperti ini. Kami direkrut dengan iming-iming kerja di luar negeri, tapi kenyataan di lapangan berbeda," ucap Hanifah dengan suara bergetar di ruang sidang.

Menurut keterangan jaksa penuntut umum Moh Heriyanto, kesaksian para korban sejalan dengan isi Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dan menguatkan unsur pidana dalam dakwaan terhadap kedua terdakwa.

“Seluruh keterangan saksi mendukung adanya dugaan TPPO dan pelanggaran dalam proses perekrutan calon pekerja migran oleh PT NSP. Aktivitas pelatihan dilakukan di luar prosedur resmi dan tanpa izin sebagai P3MI (Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia),” jelas Heriyanto.

Selain itu, Heriyanto menyebutkan bahwa sidang berikutnya akan menghadirkan beberapa saksi tambahan untuk mendalami dugaan pelanggaran lainnya, termasuk potensi eksploitasi ekonomi dan psikis terhadap korban.

Sementara itu, kuasa hukum terdakwaMohamad Zainul Arifin, membantah seluruh tuduhan tersebut. Ia menegaskan bahwa pelatihan yang dilakukan bersifat sukarela dan justru memberikan keterampilan kepada calon pekerja migran.

“Latihan yang dijalani para CPMI (Calon Pekerja Migran Indonesia), termasuk pelatihan merawat anjing, sesuai dengan penempatan mereka di Hong Kong dan dijalani tanpa paksaan. Ini adalah bagian dari persiapan kerja, bukan eksploitasi,” tegas Zainul.

Ia juga mempertanyakan validitas tudingan kekerasan karena tidak disertai bukti visum atau laporan psikologis dari lembaga medis resmi.

“Tanpa bukti visum atau keterangan ahli, pengakuan tersebut belum memenuhi unsur pembuktian hukum. Kami akan menguraikan semua itu di sidang pembelaan,” sambungnya.

Zainul bahkan menambahkan bahwa beberapa saksi pelapor hanya mendengar cerita dari pihak lain, bukan menyaksikan langsung kejadian dugaan kekerasan atau pelanggaran hukum.

“Kasus ini menurut kami lebih bersifat administratif karena terkait perizinan dan tata kelola perekrutan, bukan murni ranah pidana,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, kasus ini bermula dari laporan sejumlah calon pekerja migran yang merasa diperlakukan tidak semestinya oleh pihak PT NSP. Jaksa penuntut umum mendakwa Hermin dan Dian dengan tujuh pasal, tiga di antaranya berasal dari UU No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan TPPO, dan empat pasal lainnya dari UU No. 18 Tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia.

Sidang akan kembali digelar pekan depan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi tambahan, termasuk dari pihak instansi terkait untuk mengklarifikasi status legalitas PT NSP sebagai agen penyalur.

Jambore Pramuka Muslim Dunia 2025 Siap Digelar di Cibubur, Usung Misi Persatuan dan Visi Asta Cita Presiden Prabowo

     


PONOROGO,  mataperistiwa.my.id   – Dalam rangka memperingati satu abad berdirinya Pondok Modern Darussalam Gontor, sebuah perhelatan internasional bertajuk Jambore Pramuka Muslim Dunia 2025 akan diselenggarakan di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, pada 9–14 September 2025. Kegiatan ini akan menjadi forum persaudaraan global bagi ribuan pemuda Muslim dari 23 negara.

Acara ini tidak hanya menjadi ajang pertemuan Pramuka, tetapi juga menjadi momen strategis membumikan nilai-nilai Islam yang damai, moderat, dan inklusif, sejalan dengan semangat Asta Cita, delapan pilar pembangunan nasional yang diusung Presiden Prabowo Subianto.

Ketua Panitia Jambore, Riza Azhari Zarkasyi, menjelaskan bahwa jambore ini dirancang sebagai ruang kolaborasi lintas budaya dan negara, yang menekankan nilai ukhuwah Islamiyah, toleransi, dan keberagaman global.

“Ini bukan sekadar acara perkemahan. Ini adalah pertemuan bersejarah yang mempertemukan generasi muda Muslim dari berbagai penjuru dunia untuk saling belajar, mempererat persaudaraan, serta menggagas masa depan bersama,” ujar Riza dalam konferensi pers, Kamis (29/5/2025).

Riza menekankan bahwa Asta Cita, terutama poin keempat tentang penguatan sumber daya manusia dan pendidikan, akan menjadi landasan dalam seluruh rangkaian kegiatan. Selama jambore, peserta akan mengikuti berbagai workshop, diskusi, serta pelatihan kepemimpinan yang mengintegrasikan prinsip Islam dan nilai-nilai kepanduan.

“Kami ingin menciptakan kader pemuda Muslim yang tidak hanya cakap secara spiritual dan intelektual, tapi juga adaptif dalam menjawab tantangan dunia modern,” imbuhnya.

Tak kalah penting, poin kedelapan Asta Cita tentang keselarasan dengan lingkungan, budaya, dan kerukunan antarumat beragama akan diangkat sebagai tema utama. Menurut Riza, hal ini sangat relevan di tengah meningkatnya konflik, polarisasi, dan krisis global yang melanda berbagai negara.

“Peserta jambore diharapkan menjadi duta perdamaian yang mengedepankan dialog dan harmoni, serta membawa narasi Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam,” tambahnya.

Peringatan 100 tahun Gontor menjadi momen yang sangat simbolis. Selama satu abad, pesantren tersebut telah menjadi mercusuar pendidikan Islam modern dan melahirkan tokoh-tokoh nasional maupun internasional. Dengan hadirnya peserta dari negara-negara seperti Mesir, Turki, Brunei Darussalam, Malaysia, Qatar, Nigeria, hingga Inggris dan Timor Leste, nuansa jambore akan sarat dengan warna internasional yang dinamis.

Selain kemah dan pendidikan, agenda kegiatan juga meliputi pentas budaya, simulasi diplomasi, dan proyek kepemudaan lintas negara, menjadikan acara ini tak hanya bernuansa spiritual tapi juga sangat strategis.

“Jambore ini diharapkan menjadi inspirasi bagi pemuda Muslim dunia, bahwa Islam bisa menjadi jawaban atas tantangan global, bukan sumber konflik. Kita ingin mereka pulang dengan semangat perubahan, bukan sekadar kenangan,” pungkas Riza.(red.al)

Putusan MK Gratiskan Pendidikan SD-SMP Termasuk Swasta, Pemkot Malang: Perlu Kajian Serius dan Regulasi Tambahan

     



MALANG,  mataperistiwa.my.id    Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menginstruksikan agar biaya pendidikan di jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) digratiskan, termasuk untuk sekolah swasta, menjadi sorotan publik. Namun, implementasinya tidak semudah membalikkan tangan.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang menyambut baik putusan tersebut, namun menyatakan masih memerlukan analisa kebijakan dan perhitungan keuangan yang menyeluruh, terutama untuk sektor swasta.

“Untuk SD dan SMP negeri memang sejak lama sudah gratis. Tapi kalau untuk sekolah swasta, kita tidak bisa serta-merta mengeksekusi tanpa dasar anggaran dan regulasi yang jelas,” ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota MalangSuwarjana, saat ditemui pada Kamis (29/5/2025).

Suwarjana menegaskan bahwa implementasi putusan MK ini membutuhkan revisi kebijakan anggaran daerah dan pengesahan Peraturan Wali Kota (Perwal) sebagai payung hukum.

“Misalnya pemkot punya anggaran, tidak serta-merta bisa langsung dibagikan. Harus lewat prosedur hukum, mulai dari pengajuan hingga Perwal yang mengikat,” ungkapnya.

Menurut dia, dana yang tersedia juga masih difokuskan pada berbagai program besar lain, seperti Program Anak Soleh dan Sabilillah, yang telah menyerap dana signifikan setiap bulannya. Hal ini menimbulkan dilema dalam skema pengalokasian anggaran.

“Kalau nanti semua sekolah swasta digratiskan, apakah kita siap? Program-program strategis yang ada selama ini pun butuh dana besar. Kita tidak ingin mengganti satu manfaat dengan mengorbankan yang lain,” jelasnya.

Sejauh ini, sekolah swasta di Kota Malang memang sudah mendapatkan dukungan berupa bantuan operasional dari pemerintah. Namun, penggajian guru swasta masih menjadi tanggung jawab masing-masing yayasan, sehingga biaya operasional tetap harus ditutup dari pembayaran wali murid.

“Bantuan kita berikan, nilainya hampir sama dengan sekolah negeri. Tapi beda dengan negeri, guru swasta tidak dibiayai langsung oleh negara. Ini yang membuat sekolah swasta tetap mengenakan biaya ke siswa,” tambahnya.

Suwarjana juga mewanti-wanti adanya salah tafsir dari masyarakat, khususnya orang tua siswa, yang mengira semua sekolah termasuk swasta langsung digratiskan.

“Ini rawan kesalahpahaman. Bayangan saya, putusan ini lebih mengarah ke negeri. Tapi kalau memang swasta juga masuk, kita butuh duduk bareng dengan para pengelola sekolah swasta,” katanya.

Sebagai langkah awal, Dinas Pendidikan Kota Malang akan mengundang perwakilan sekolah swasta dan pihak terkait untuk mencari solusi bersama.

“Yang penting kita tidak gegabah. Kita akan rembuk bersama, cari jalan tengah yang adil bagi semua pihak. Harus ada win-win solution, agar kebijakan ini tidak justru memunculkan masalah baru,” pungkasnya.(red.al)

Proyek P3TGAI di Desa Klampisan Digoyang Dugaan Korupsi dan Manipulasi Laporan, Kepala Desa Beri Pernyataan Tegas

  



Kediri, Jawa Timur,   mataperistiwa.my.id   – Dugaan penyimpangan dalam pelaksanaan Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3TGAI) di Desa Klampisan, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri, kini makin memanas dan menjadi sorotan publik. Investigasi yang dilakukan oleh Lembaga Pengawas dan Pengaduan Pembangunan Nasional – NKRI (LP3-NKRI) mengindikasikan adanya praktik manipulasi dan rekayasa laporan Surat Pertanggungjawaban (SPJ) dana bantuan yang berpotensi merugikan keuangan negara hingga ratusan juta rupiah.

Program P3TGAI yang digagas oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) ini merupakan program padat karya tunai yang bertujuan meningkatkan sistem irigasi dengan memberdayakan masyarakat petani melalui mekanisme swakelola yang transparan dan akuntabel. Di Desa Klampisan, kelompok petani yang tergabung dalam Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A) mendapat dana bantuan sebesar Rp 195 juta dalam dua tahap langsung dari kas negara melalui rekening resmi.

Namun, setelah pekerjaan dinyatakan selesai, muncul kejanggalan dalam laporan SPJ yang disampaikan kepada Satuan Kerja P3TGAI di Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) provinsi. LP3-NKRI mendapati indikasi kuat bahwa laporan tersebut dibuat tidak sesuai kenyataan, melainkan hasil rekayasa kolaboratif antara oknum perangkat desa, Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM), dan Ketua GP3A setempat.

Menurut temuan investigasi, laporan SPJ yang dikirimkan terkesan memenuhi prosedur sesuai Permen PUPR No. 4 Tahun 2021 tentang P3TGAI, namun kenyataannya pekerjaan tidak dilaksanakan sebagaimana ketentuan. Ini menunjukkan adanya upaya pemalsuan dokumen demi menutupi penyimpangan.

Saat dikonfirmasi, Kepala Desa Klampisan memberikan pernyataan yang sangat tegas namun kontroversial:

“Semua proses dan pelaksanaan sudah sesuai prosedur BBWS. Jika ada pihak yang merasa ada yang salah, silakan tempuh jalur hukum yang berlaku. Kami siap diproses jika terbukti melakukan kesalahan.”

Namun pernyataan ini justru menimbulkan pro dan kontra. Kepala Desa dan Ketua HIPPA yang juga mengelola program ini disebut-sebut sering menggunakan istilah “aspirator” dalam konteks yang tidak jelas, menimbulkan keraguan tentang pemahaman mereka terhadap mekanisme program.

Dalam ranah hukum, dugaan rekayasa laporan ini bisa dikategorikan sebagai tindak pidana korupsi dan pemalsuan dokumen yang diatur dalam:

  • Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang mengancam pelaku dengan hukuman pidana penjara paling singkat 4 tahun hingga seumur hidup serta denda minimal Rp200 juta apabila merugikan keuangan negara.

  • Pasal 263 KUHP tentang Pemalsuan Dokumen, yang mengatur ancaman pidana penjara hingga 6 tahun bagi pelaku.

LP3-NKRI mendesak agar Balai Besar Wilayah Sungai segera melakukan evaluasi menyeluruh dan audit terhadap proyek tersebut. Selain itu, Aparat Penegak Hukum (APH) harus mengusut tuntas dugaan praktik korupsi dan penyalahgunaan kewenangan dalam pengelolaan dana bantuan ini.

“Kami mendorong aparat hukum untuk menindak tegas oknum-oknum yang mencoba mengambil keuntungan pribadi dari program yang semestinya membantu masyarakat petani,” ujar perwakilan LP3-NKRI.

Kasus ini menjadi perhatian serius karena selain berpotensi merugikan keuangan negara, juga mengancam keberlangsungan program strategis nasional yang sangat penting bagi ketahanan pangan dan perekonomian masyarakat.

Kepala Desa menegaskan kembali:

“Silakan proses hukum dilakukan jika memang ditemukan pelanggaran. Hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu.”

LP3-NKRI juga mengimbau kepada masyarakat untuk aktif mengawasi pelaksanaan program pembangunan agar tidak terjadi penyimpangan serupa di masa depan.(RED.TIM)

Terbongkar! Kang Dalbo, Suami Berseragam yang Ternyata "Oknum" di Hati Istri Sendiri

    


KEDIRI,  mataperistiwa.my.id   – Rumah tangga Yu Minthul dan Kang Dalbo yang awalnya dipenuhi harapan, kini tinggal serpihan luka dan amarah. Wanita asal Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri ini harus menelan pil pahit kenyataan bahwa pria yang dulu dielu-elukan sebagai menantu idaman, ternyata menyimpan tabiat yang jauh dari kesetiaan.

“Wis duwe bojo, isih seneng tebar pesona. Ora mung goda-goda, tapi sampek duwe simpenan. Gaji pas-pasan, gaya dobelan,” ketus Yu Minthul saat menceritakan kisahnya.

Dulu, Kang Dalbo dikenal sebagai sosok pria berseragam yang tampak mapan dan sopan di depan keluarga Yu Minthul. Saking halus tutur katanya dan rapi penampilannya, orang tua Yu Minthul langsung luluh dan menyetujui hubungan mereka. Padahal, beberapa sahabat dekat sudah memberi sinyal bahaya soal tabiat asli pria itu.

“Dheweke tampil manis pas kenalan. Kelakuane tenan kaya calon menantu idaman. Wong tuwaku wae gumun,” cerita Yu Minthul yang kala itu merasa tak perlu berpikir dua kali menerima lamaran Kang Dalbo.

Segalanya terlihat sempurna. Seorang pria dengan pekerjaan tetap di pemerintahan, rapi berseragam, dan rajin silaturahmi ke rumah calon mertua. Tapi semua itu ternyata cuma topeng. Begitu janur kuning usai dan rumah tangga dijalani, watak asli Kang Dalbo mulai muncul ke permukaan.

“Saiki aku ngerti, ora kabeh pria berseragam kuwi patut diidolakan. Kadang berseragam, tapi perilakune longgar,” sindir Yu Minthul penuh kekecewaan.

Dua tahun berjalan, Yu Minthul justru merasa seperti menjadi tulang punggung keluarga. Hampir seluruh kebutuhan rumah tangga ditanggung sendiri, sementara suaminya justru sibuk bersenang-senang dengan wanita lain.

“Sakjane aku ngimpi bisa urip makmur bareng. Ndilalah malah aku sing kudu nyukupi. Kang Dalbo malah urip mewah karo selingkuhane,” keluhnya.

Ketika permasalahan rumah tangga mulai memanas, Kang Dalbo justru tidak menunjukkan rasa penyesalan. Alih-alih meminta maaf, pria itu malah menantang Yu Minthul untuk bercerai.

“Arep pegatan? Ya wis. Tapi kowe seng urusi kabeh prosedure,” kata Kang Dalbo enteng, seperti diungkapkan Yu Minthul.

Meskipun pahit, Yu Minthul akhirnya memilih jalan perceraian. Proses yang tidak mudah, namun ia jalani dengan tegar. Apalagi, hingga kini keduanya belum dikaruniai anak.

“Wes cukup. Gak arep maneh nyangkut urusan karo lanangan berseragam. Jare oknum, aku saiki ngerti maknane,” pungkasnya sambil tersenyum getir.

Kisah Yu Minthul menjadi pelajaran penting bahwa penampilan dan status pekerjaan tak selalu mencerminkan isi hati seseorang. Cinta memang buta, tapi pengalaman pahit bisa menjadi penerang untuk melangkah lebih bijak ke depan.(RED.AL)

Dari Jagung Tua hingga Jamu Segar, Inovasi Yulianti Tembus Pasar Hongkong

    


KABUPATEN KEDIRI,  mataperistiwa.my.id  – Siapa sangka jagung tua yang biasa dianggap bahan makanan tak bernilai, justru mampu mengantarkan Yulianti, warga Desa Gayam, Kabupaten Kediri, dikenal hingga ke luar negeri. Di tangannya, jagung tua bertransformasi menjadi camilan renyah nan menggoda selera: keripik jagung. Tak hanya itu, ia juga meracik jamu segar tanpa rebus yang digemari banyak pelanggan.

Berawal dari eksperimen sederhana bersama sang adik, Yulianti mencoba membuat tortilla dari referensi YouTube. Namun karena kesalahan bahan – jagung tua alih-alih jagung segar – eksperimen awalnya gagal. Tapi justru dari kesalahan itu lahir ide baru.

“Waktu itu saya berpikir, kenapa tidak sekalian mencoba bikin camilan dari jagung tua?” tutur perempuan 47 tahun ini sambil tersenyum mengenang masa awal merintis.

Berbagai percobaan dilakukan. Mulai dari adonan terlalu lembek hingga proses penggilingan yang rumit. Namun, semangatnya tak pernah surut. Baginya, kegagalan hanyalah bagian dari proses menuju keberhasilan.

“Kadang rasanya pengin nyerah. Tapi saya percaya, wong usaha kok gak dicoba terus, kapan majune?” ucap Yuli penuh keyakinan.

Keripik jagung buatannya kini telah dikenal di kalangan masyarakat lokal. Bahkan, menjadi oleh-oleh favorit tenaga migran Indonesia di Hongkong. Beberapa pelanggan rutin memesan dan membawanya sebagai buah tangan ke negeri seberang.

Produksinya memang masih terbatas. Dengan proses manual dan tenaga yang seadanya, Yuli hanya mampu mengolah sekitar satu kilogram adonan per hari. Namun permintaan terus mengalir, apalagi menjelang musim liburan dan arus balik pekerja migran.

Tak puas dengan keripik jagung, Yulianti juga mengembangkan lini usaha lain: Jamoe Koe, jamu segar racikannya yang telah dirintis sejak pandemi tahun 2020.

“Awalnya buat minum sendiri karena pandemi. Lalu banyak yang suka, akhirnya saya kemas dan jual,” ujarnya.

Ada enam varian yang ia produksi: beras kencur, kunir asem, temulawak, kunir luntas, kunci suruh, dan gepyokan. Ia bahkan menerima pesanan khusus untuk jamu manjakani. Semua bahan diolah tanpa proses perebusan agar kesegarannya terjaga.

“Ini bukan jamu yang direbus kayak biasanya. Jadi lebih fresh dan rasanya beda,” jelasnya.

Produksi dilakukan tiga kali seminggu, masing-masing menghasilkan 60 botol berukuran 500 mililiter. Jamu kunir asam jadi yang paling laris. Tapi karena tanpa pengawet, daya tahannya hanya satu hari di suhu ruang, atau dua hari jika disimpan di kulkas.

“Harganya mulai Rp 5 ribu. Murah, tapi segar dan berkhasiat,” tandasnya.

Di tengah keterbatasan alat dan modal, Yuli tak pernah kehilangan semangat. Baginya, usaha kecil pun bisa besar asal tekun dan jujur. Tak peduli apa kata orang, yang penting jalan terus.

“Meskipun hanya dari dapur rumah, saya ingin produk saya bisa membuat orang senang dan sehat,” pungkasnya.(RED.AL)

Jelang Idul Adha, Harga Sapi Naik hingga 10 Persen, Animo Tetap Tinggi Meski Sedikit Turun

    


KABUPATEN KEDIRI,  mataperistiwa.my.id   – Idul Adha semakin dekat, dan geliat pasar hewan kurban di Kabupaten Kediri mulai terasa. Para peternak dan penjual hewan kurban mulai disibukkan dengan lonjakan permintaan, terutama untuk sapi. Meski ada kenaikan harga, minat masyarakat tetap terjaga.

Menurut Yhuni Ismhawati, Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri, saat ini terjadi kenaikan harga hewan kurban, khususnya sapi, hingga 10 persen.

“Kenaikan harga sapi berada di kisaran 5 sampai 10 persen. Sudah mulai banyak masyarakat yang mencari,” ujarnya.

Kondisi ini dinilai sebagai fenomena tahunan yang lumrah. Menjelang Idul Adha, permintaan cenderung meningkat, sehingga memengaruhi harga pasar. Meski begitu, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, tren pembelian tahun ini menunjukkan sedikit penurunan.

“Animonya masih cukup tinggi, tapi memang ada penurunan jika dibandingkan Idul Adha tahun lalu,” tambah Yhuni.

Kenaikan harga dan peningkatan permintaan juga dirasakan langsung oleh Muhamad Fuad Fauzi, salah satu peternak sapi di Kecamatan Plosoklaten. Menurutnya, permintaan tahun ini sudah mulai terasa sejak awal bulan Dzulhijjah.

“Peningkatan permintaan sudah terlihat sejak beberapa minggu lalu. Kalau hari biasa paling hanya puluhan ekor, tapi sekarang bisa sampai ratusan,” jelasnya.

Fuad mengaku bahwa kenaikan harga bukan tanpa alasan. Selain karena meningkatnya permintaan, biaya perawatan dan pakan juga mengalami penyesuaian.

“Harga pakan juga naik. Itu salah satu faktor yang membuat harga sapi naik menjelang Idul Adha,” ujarnya.

Meskipun harga naik, banyak konsumen tetap memilih membeli dari peternak lokal. Selain karena jaminan kondisi hewan yang sehat, proses transaksi dinilai lebih transparan dan fleksibel.

Tak hanya sapi, kambing dan domba juga mengalami peningkatan permintaan. Namun, fokus utama masyarakat Kabupaten Kediri cenderung tetap pada sapi sebagai pilihan utama hewan kurban.

“Kami terus memantau kesehatan hewan-hewan kurban yang beredar. Pemeriksaan dilakukan rutin, baik di pasar hewan maupun di kandang peternak,” tandas Yhuni.

Bagi masyarakat yang ingin membeli hewan kurban, DKPP Kabupaten Kediri mengimbau agar memastikan hewan dalam kondisi sehat dan memenuhi syarat syariat. Pemeriksaan kesehatan hewan secara gratis juga akan disediakan mendekati hari raya.

“Kami siap terjun langsung ke lapangan demi memastikan hewan yang dikurbankan sehat dan layak,” tegas Yhuni.

Dengan kenaikan harga yang masih dalam batas wajar, dan kesadaran masyarakat akan pentingnya memilih hewan kurban yang sehat, diharapkan pelaksanaan Idul Adha tahun ini tetap berjalan khusyuk dan penuh berkah.(RED.AL)

Di Balik Feed Estetik: Saat Media Sosial Menjadi Cermin Harapan dan Kecemasan

    


KEDIRI,   mataperistiwa.my.id  – Cukup buka Instagram beberapa menit, mata kita akan disuguhi tampilan foto-foto yang seragam: warna pastel yang lembut, meja kopi yang tertata, potret diri dengan outfit bernuansa senada. Tampaknya, semua orang sedang berlomba tampil se-estetik mungkin.

Namun di balik visual yang tertata rapi, tersimpan pertanyaan mendalam: benarkah ini cerminan ekspresi, atau justru tekanan sosial yang dibungkus algoritma?

Bagi Alvina Putri, mahasiswa asal Kediri yang juga aktif di dunia konten fashion, dunia aesthetic bukan sekadar hobi—tapi sudah menjadi bagian dari identitas. “Sebenarnya awalnya aku suka-suka aja posting OOTD atau makeup soft look. Tapi lama-lama, kayak ada ekspektasi tersendiri dari orang-orang. Kalau fotonya beda tone aja, bisa dibilang nggak matching,” ujarnya.

Fenomena ini berakar dari budaya visual yang tumbuh sejak era Tumblr dan Pinterest. Kala itu, unggahan bernuansa vintage, minimalis, hingga grunge menjadi cara seseorang menunjukkan karakter. Tapi sejak Instagram menjadi panggung utama, ekspresi personal mulai berubah menjadi standar estetik tak tertulis.

“Estetik jadi kayak kewajiban. Kalau mau dapat likes banyak atau engagement bagus, ya harus ikut gaya yang sedang tren,” tambah Alvina.

Di baliknya, algoritma media sosial berperan besar. Sistem cerdas ini menyukai konten yang konsisten, terang, dan visualnya rapi. Tanpa sadar, pengguna terdorong menciptakan konten yang “disukai algoritma”, bukan yang mereka suka secara jujur.

Validasi Sosial, Bukan Sekadar Warna Feed

Fenomena membandingkan diri semakin kuat ketika standar visual ini dijadikan tolok ukur pencapaian hidup. Banyak orang merasa harus memiliki kamar minimalis, outfit mahal, atau aktivitas liburan aesthetic hanya agar bisa “layak” dibagikan di feed.

“Padahal, nggak semua yang kelihatan di Instagram itu real. Banyak yang memang dikurasi, diedit, bahkan di-setting hanya untuk dapat konten,” ujar Nasywa, fotografer lepas di Kediri yang kerap membantu klien membuat konten branding pribadi.

Menurutnya, tekanan untuk tampil estetik kini bukan hanya dirasakan influencer atau pelaku UMKM, tapi juga masyarakat umum. “Dulu orang datang ke studio buat foto wisuda, sekarang bisa buat stok foto aesthetic biar feed-nya rapi,” tambahnya sambil tertawa.

Ketika Aesthetic Menjadi Cermin Diri

Identitas digital kini kerap dianggap sebagai representasi diri yang sesungguhnya. Akun Instagram bukan lagi sekadar tempat berbagi, tapi juga dinilai sebagai “kartu nama visual”. Di sinilah batas antara realita dan representasi mulai kabur.

Tentu, tidak salah jika seseorang ingin menampilkan sisi terbaiknya. Namun, penting untuk disadari bahwa apa yang terlihat di media sosial hanyalah potongan kecil dari kehidupan yang sesungguhnya.

“Aku belajar buat santai aja. Feed rapi itu menyenangkan, tapi nggak harus bikin stres. Yang penting tetap jadi diri sendiri,” tutup Alvina.

Pada akhirnya, estetik hanyalah gaya—bukan ukuran nilai diri. Tak mengapa jika feed-mu tak sempurna. Yang lebih penting adalah memastikan hidupmu tetap autentik, meski tak selalu terbingkai dengan tone warna yang senada.(RED.AL)

Bansos Tahap II 2025 Resmi Cair, Warga Kediri Diminta Cek Nama Lewat DTSEN

   



KEDIRI,  mataperistiwa.my.id    – Kabar gembira kembali menyapa warga penerima bantuan sosial (bansos) di seluruh Indonesia, termasuk di wilayah Kediri. Pemerintah pusat resmi menyalurkan bansos triwulan II tahun 2025 mulai tanggal 28 Mei 2025, dengan menyasar lebih dari 16 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM).

Penyaluran bansos tahap kedua ini mencakup dua program utama, yakni Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Total anggaran yang digelontorkan mencapai Rp10 triliun, disalurkan secara bertahap ke seluruh daerah melalui bank penyalur dan PT Pos Indonesia.

Dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul, menyampaikan bahwa proses distribusi bansos kini berbasis Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).

“Penyaluran mulai dilakukan hari ini secara bertahap. Ini bagian dari komitmen pemerintah untuk menyalurkan bantuan lebih tepat sasaran,” ujar Gus Ipul.

Ia menegaskan, penggunaan DTSEN yang merupakan arahan dari Presiden Prabowo Subianto, merupakan upaya konkret untuk menghindari kesalahan sasaran dalam penyaluran bansos yang selama ini masih menjadi persoalan klasik.

Langkah-Langkah Cek Nama Penerima Bansos via DTSEN

Bagi masyarakat yang ingin memastikan apakah namanya termasuk penerima bantuan sosial tahap ini, Kementerian Sosial menyediakan dua metode pengecekan:

Melalui Aplikasi “Cek Bansos”:

  1. Unduh aplikasi di Play Store

  2. Registrasi dan login menggunakan NIK

  3. Pilih menu Cek Bansos

  4. Masukkan nama lengkap dan domisili

  5. Tekan “Cari Data” untuk melihat hasil

Melalui Website Resmi Kemensos:

  1. Akses situs cekbansos.kemensos.go.id

  2. Masukkan data wilayah dan nama lengkap sesuai KTP

  3. Masukkan kode captcha

  4. Klik “Cari Data” untuk menampilkan informasi

Masyarakat juga bisa langsung menanyakan statusnya ke kantor Dinas Sosial terdekat jika mengalami kendala dalam pengecekan digital.

Rincian Besaran Bantuan Sosial Tahap II

PKH:

  • Ibu Hamil/Nifas: Rp750.000 per tahap

  • Anak Usia Dini (0-6 tahun): Rp750.000 per tahap

  • Siswa SD: Rp225.000 per tahap

  • Siswa SMP: Rp375.000 per tahap

  • Siswa SMA: Rp500.000 per tahap

  • Penyandang Disabilitas Berat: Rp600.000 per tahap

  • Lansia (usia 70 tahun ke atas): Rp600.000 per tahap

BPNT:

  • Setiap KPM akan menerima bantuan sebesar Rp200.000 per bulan

  • Jika diakumulasikan selama tiga bulan, total bantuan mencapai Rp600.000

Respons Masyarakat Kediri

Salah satu warga Desa Banyakan, Kabupaten Kediri, Bu Siti Maspupah, merasa bersyukur dengan cairnya bantuan ini. Ia mengaku sangat terbantu, apalagi saat ini anaknya masih sekolah dan biaya kebutuhan rumah tangga semakin meningkat.

“Alhamdulillah, sangat terbantu. Apalagi sekarang mau masuk tahun ajaran baru, kebutuhan banyak. Saya dapat bantuan PKH untuk anak saya yang SMP,” ujar Bu Siti.

Sementara itu, Dinas Sosial Kabupaten Kediri mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya jika ada pihak yang meminta imbalan dalam bentuk apapun untuk mempercepat proses pencairan bansos.

“Semua proses gratis dan tidak dipungut biaya. Jika menemukan pungutan liar atau calo, segera laporkan ke kami,” tegas salah satu staf Dinsos Kediri.

Catatan Penting

Penyaluran bansos ini tidak hanya berdampak pada sektor sosial, tapi juga mendukung perputaran ekonomi lokal. Dengan adanya tambahan daya beli dari masyarakat, sektor UMKM dan pasar tradisional turut terdongkrak.

Pemerintah berharap masyarakat bisa memanfaatkan bansos ini secara bijak dan tetap waspada terhadap modus penipuan atau pungli yang mengatasnamakan program bantuan.(RED.AL)

Tanda-Tanda Kamu Diam-Diam Naksir Seseorang, Tapi Masih Belum Mau Ngaku

    


KEDIRI,  mataperistiwa.my.id    – Pernah merasa biasa saja dengan seseorang, tapi mendadak uring-uringan saat dia dekat dengan orang lain? Atau merasa semangat cuma karena dapat balasan chat darinya? Bisa jadi, kamu sebenarnya sedang menyukai seseorang—tanpa kamu sadari.

Menurut para psikolog, rasa suka tidak selalu datang dengan pengakuan. Bahkan banyak orang justru berada dalam fase “denial manis”, yaitu menyimpan rasa tanpa benar-benar mau mengakuinya. Padahal, tubuh dan perilaku seringkali sudah memberi sinyal lebih dulu sebelum hati menyusul.

Psikolog klinis Adinda Saraswati, M.Psi., menyebut fenomena ini sebagai bentuk reaksi alamiah manusia terhadap kebutuhan emosional dan afeksi. Menyukai seseorang diam-diam adalah sesuatu yang sangat umum, apalagi di masa kini saat interaksi bisa terjadi lewat banyak platform.

“Perasaan cinta itu bisa muncul perlahan, bahkan tanpa disadari. Yang penting adalah belajar jujur pada diri sendiri, sebelum berharap pada orang lain,” ujar Adinda.

Berikut beberapa sinyal khas bahwa kamu sebenarnya sedang suka sama seseorang, tapi masih berusaha terlihat cuek:

1. Selalu Ada Alasan Untuk Chat atau Sekadar Balas Story

Kamu mungkin tidak sadar sudah mulai sering nge-chat dia. Bahkan hal-hal sepele seperti, “Eh, tadi kamu lewat ya?” atau “Kamu pakai filter apa tuh?” bisa jadi dalih untuk memulai obrolan.

2. Merhatiin Banget Hal-Hal Kecil

Kamu tahu dia suka teh, bukan kopi. Kamu tahu jam aktifnya di Instagram. Kamu hafal emotikon favorit yang sering dia pakai. Itu bukan kebetulan—itu perhatian lebih dari biasanya.

3. Gampang Baper Kalau Dia Akrab Sama Orang Lain

Meskipun status kalian hanya “teman”, rasanya hati gerah kalau dia terlihat akrab dengan lawan jenis lain. “Aku nggak cemburu kok, cuma... ya, heran aja,” adalah salah satu bentuk pembelaan klasik.

4. Namanya Sering Tiba-Tiba Muncul di Pikiran

Sedang nonton film, baca buku, atau bahkan makan mie goreng—eh, kok kepikiran dia lagi? Kalau kamu sering mengalami ini, bisa jadi otakmu diam-diam sudah memprioritaskan dia di memori jangka pendekmu.

5. Perubahan Mood Tergantung Respons Dia

Dia bales chat pakai emoji senyum: kamu senyum-senyum sendiri. Dia lama bales: langsung overthinking. Ini bukti bahwa validasi emosionalmu mulai bergantung pada reaksinya.

6. Ngaku-ngaku Nggak Suka Tapi Kok Ribet Sendiri

Kalimat seperti “Aku biasa aja kok sama dia” sering keluar, tapi kamu tetap jadi orang pertama yang notice saat dia ganti foto profil. Penyangkalan seperti ini sering jadi alarm bahwa kamu sedang menolak rasa yang sesungguhnya udah muncul duluan.

Mengaku Bukan Berarti Harus Mengungkapkan

Adinda menekankan bahwa menyadari rasa suka bukan berarti kamu harus langsung mengutarakannya.

“Menerima emosi adalah langkah awal. Dari situ kita bisa mengevaluasi: apakah ini hanya ketertarikan sesaat, atau perasaan yang lebih dalam dan konsisten?”

Ia menambahkan bahwa terlalu lama menyimpan rasa juga bisa menimbulkan tekanan mental jika tidak diolah dengan baik. Maka dari itu, penting untuk jujur pada diri sendiri dan memahami batasan nyaman.

Boleh Suka, Tapi Jangan Kehilangan Diri Sendiri

Di era media sosial dan komunikasi cepat seperti sekarang, rasa suka bisa muncul lewat interaksi yang intens tapi tidak selalu bermakna. Jangan sampai kamu terbawa perasaan hanya karena atensi sesaat. Paling penting, jangan kehilangan jati diri hanya demi seseorang yang belum tentu merasa sama.

Ingat, menyukai seseorang adalah hal manusiawi. Tapi menjadi sadar akan perasaan itu dan tahu bagaimana menyikapinya—itulah kedewasaan emosional yang sesungguhnya.

Kalau kamu merasa mengalami beberapa tanda di atas, mungkin sudah waktunya berhenti bilang “nggak suka kok” dan mulai bertanya: “Sebenernya, aku kenapa ya?”(RED.AL)

Tak Bisa Coding? Tenang, Sekarang Bikin Website Bisa Semudah Main Sosial Media

   



KEDIRI,   mataperistiwa.my.id   – Zaman sekarang, tampil secara digital bukan lagi sekadar tren, tapi sudah jadi kebutuhan. Entah untuk membangun personal branding, memasarkan produk, atau berbagi informasi pendidikan—keberadaan website pribadi kini dianggap sebagai kartu nama modern. Sayangnya, masih banyak yang mengira membuat website itu harus jago coding dulu. Padahal, kenyataannya tidak begitu.

Berkat kemajuan teknologi, sekarang siapa pun bisa membuat website tanpa menulis satu baris kode pun. Yup, inilah era no-code—di mana membangun website bisa dilakukan hanya dengan drag-and-drop elemen di layar. Gampangnya, kamu tinggal pilih template, edit isi sesuai keinginan, lalu langsung publish!

"Tak perlu takut karena tidak bisa coding. Yang penting adalah kreativitas dan kemauan untuk mencoba. Dunia digital kini sangat ramah untuk pemula,” ungkap Reza Ariansyah, penggiat digital kreatif di Kediri.

Apa Itu No-Code dan Low-Code?

No-code adalah pendekatan di mana pengguna bisa membuat aplikasi atau website tanpa menulis kode sama sekali. Semua dilakukan melalui antarmuka visual yang intuitif, bahkan bisa lewat smartphone. Sementara itu, low-code menggunakan sedikit kode untuk memberi fleksibilitas tambahan, namun tetap jauh lebih mudah dibandingkan pemrograman tradisional.

Kedua pendekatan ini sangat membantu banyak orang yang ingin punya kehadiran digital tanpa harus belajar bahasa pemrograman seperti HTML, CSS, atau JavaScript.

Pilihan Platform Tanpa Coding yang Bisa Dicoba

Kalau kamu ingin segera mulai membangun website, ini beberapa platform no-code yang bisa jadi pilihan:

  • Wix – Fleksibel dan cocok untuk semua jenis website. Cocok untuk bisnis rumahan hingga portofolio pribadi.

  • Squarespace – Dikenal dengan desainnya yang elegan dan artistik. Cocok buat kamu yang mengutamakan estetika.

  • Webflow – Fitur lebih kompleks dan cocok untuk desainer yang ingin hasil profesional tanpa ngoding.

  • WordPress.com – Mudah digunakan, cocok untuk blog atau website bisnis kecil.

  • Google Sites – Sederhana, gratis, dan cocok untuk proyek edukasi atau dokumentasi.

Fitur Keren yang Bisa Kamu Dapatkan Tanpa Coding Sama Sekali

Dengan platform no-code, kamu bisa melakukan banyak hal hanya dengan klik dan seret:

  • Menambahkan halaman baru dan navigasi

  • Menyisipkan video, gambar, dan kontak form

  • Bikin galeri foto keren

  • Kustomisasi tampilan sesuai brand

  • Hubungkan domain pribadi

  • Optimasi SEO dasar

  • Buka toko online dan terima pembayaran langsung

Plus Minus dari Platform No-Code

Kelebihan:

  • Cepat dan praktis

  • Cocok untuk pemula

  • Banyak template gratis dan siap pakai

  • Tidak butuh pengalaman teknis

Kekurangan:

  • Kustomisasi terbatas pada fitur yang tersedia

  • Beberapa fitur canggih hanya ada di versi premium

  • Untuk kebutuhan kompleks, kadang tetap butuh bantuan developer

Siapa Saja yang Bisa Manfaatkan No-Code? Jawabannya: Semua Orang!

Bukan cuma untuk pebisnis atau kreator konten, platform no-code cocok untuk siapa saja:

  • UMKM yang ingin menjangkau pelanggan baru secara online

  • Mahasiswa yang butuh website portofolio atau blog pribadi

  • Guru dan dosen yang ingin membuat situs pembelajaran interaktif

  • Freelancer yang butuh tampil profesional di dunia digital

Bahkan, ibu rumah tangga yang ingin menjual produk rumahan pun bisa belajar membuat website sendiri dengan mudah!

Kesimpulan: Saatnya Online Tanpa Pusing

Tak ada lagi alasan untuk tertinggal di era digital hanya karena tidak bisa coding. Dunia digital kini lebih inklusif, dan teknologi no-code telah membuka gerbang luas bagi siapa pun yang ingin membangun sesuatu secara online.

Jadi, daripada menunggu dan terus merasa takut, lebih baik mulai eksplorasi dan wujudkan ide-ide kamu lewat website buatan sendiri. Kadang, langkah pertama memang yang paling sulit—tapi setelah itu, kamu akan tahu bahwa sebenarnya kamu bisa!

(RED.AL)

Makin Canggih, Ini Deretan Teknologi Keselamatan Mobil yang Wajib Kamu Ketahui!

   



KEDIRI,  mataperistiwa.my.id   – Dunia otomotif terus bergerak maju, dan salah satu fokus utamanya adalah keselamatan berkendara. Kini, mobil tidak hanya dituntut tampil keren dan irit bahan bakar, tapi juga harus pintar melindungi pengemudi serta penumpang dari potensi bahaya di jalan.

Seiring perkembangan teknologi, produsen otomotif saling berlomba menghadirkan fitur keselamatan mutakhir—bahkan tak sedikit yang kini tersedia di mobil kelas menengah. Artinya, keselamatan bukan lagi hak istimewa mobil mewah, tetapi sudah jadi kebutuhan dasar yang bisa diakses oleh semua kalangan.

“Keselamatan itu bukan fitur tambahan, tapi fondasi utama dalam berkendara. Mobil pintar bisa menyelamatkan nyawa, bukan sekadar membawa penumpang dari titik A ke titik B,” ujar Fahmi Aryanto, teknisi otomotif senior di Kediri.

Teknologi Keselamatan Mobil yang Semakin Diperhitungkan

Berikut sederet teknologi keselamatan yang semakin sering ditemui di kendaraan masa kini:

✅ Anti-lock Braking System (ABS)

Mencegah roda mengunci saat rem mendadak, menjaga kendali mobil tetap stabil terutama di jalan basah atau berpasir.

✅ Electronic Stability Control (ESC)

Menjaga kestabilan saat mobil menikung tajam atau selip. ESC bekerja otomatis untuk menghindari oversteer atau understeer.

✅ Airbags (Kantong Udara)

Fitur vital yang mengembang saat terjadi tabrakan untuk melindungi tubuh dari benturan keras. Kini, airbag tak hanya di depan, tapi juga di samping hingga bagian lutut.

✅ Blind Spot Monitoring

Menghilangkan “titik buta” penglihatan pengemudi, biasanya dengan indikator di spion atau suara peringatan. Bikin pindah jalur lebih aman.

✅ Rear Cross Traffic Alert (RCTA)

Wajib untuk kamu yang sering parkir di area ramai! Fitur ini memberi tahu jika ada kendaraan melintas di belakang saat mobil mundur.

✅ Lane Departure Warning & Lane Keeping Assist

Menghindari mobil keluar jalur secara tidak sengaja. Beberapa sistem bahkan bisa “mengoreksi” setir secara otomatis agar tetap di lajur.

✅ Forward Collision Warning & Automatic Emergency Braking (AEB)

Mendeteksi potensi tabrakan di depan dan memberi peringatan. Jika tak ada respons, mobil akan mengerem otomatis. Cocok untuk lalu lintas padat!

✅ Adaptive Cruise Control (ACC)

Bisa jaga jarak otomatis dengan mobil di depan. Ideal untuk perjalanan jauh dan mengurangi stres saat terjebak macet.

✅ Tire Pressure Monitoring System (TPMS)

Tekanan ban yang terlalu rendah bisa berbahaya. TPMS akan memberi notifikasi jika tekanan ban tidak ideal.

✅ Driver Attention Monitoring

Sistem ini membaca pola perilaku pengemudi. Kalau kamu terlihat mengantuk atau kurang fokus, akan ada peringatan agar segera beristirahat.

Teknologi Canggih Bukan Cuma Gaya, Tapi Nyata Menyelamatkan

Perlu digarisbawahi, kecelakaan bisa terjadi kapan saja, bahkan ketika kita sudah berhati-hati. Oleh karena itu, pemahaman akan fitur keselamatan ini sangat penting. Fitur-fitur tersebut bukan hanya untuk gaya, tapi benar-benar bisa menyelamatkan nyawa.

Terlebih, kini banyak produsen mobil yang menyematkan teknologi tersebut bahkan di segmen kendaraan keluarga dan niaga. Jadi, bagi kamu yang sedang mempertimbangkan membeli mobil, baik baru maupun bekas, jangan hanya lihat desain dan harga. Pastikan fitur keselamatannya juga lengkap.

“Tak perlu menunggu kecelakaan untuk sadar pentingnya teknologi keselamatan. Lebih baik mencegah daripada menyesal,” tegas Fahmi menutup pembicaraan.

Kesimpulan: Safety First, Always!

Memahami dan menggunakan teknologi keselamatan mobil bukan hanya bentuk kepedulian pada diri sendiri, tapi juga pada sesama pengguna jalan. Dengan fitur yang tepat, perjalanan jadi lebih tenang, nyaman, dan aman.

Karena pada akhirnya, keselamatan bukan pilihan—tapi keharusan.(RED.AL)

Disdag Kabupaten Kediri Angkat UMKM Lokal Lewat Kuno Kini Fest 2025

    



KEDIRI,   mataperistiwa.my.id  – Semangat pemberdayaan pelaku usaha kecil terus digaungkan oleh Dinas Perdagangan (Disdag) Kabupaten Kediri. Terbaru, dalam ajang Kuno Kini Fest 2025, Disdag turut membuka stan yang menjadi panggung promosi bagi sejumlah UMKM unggulan binaannya. Salah satu yang mencuri perhatian adalah pelaku UMKM dari Kecamatan Wates yang menyuguhkan karya-karya dari kulit sapi asli.

Mulai dari dompet, tas, hingga sepatu, semua produk yang dipamerkan memiliki kualitas tinggi dan tampil dengan desain eksklusif. “Semua kami buat dari kulit asli, tanpa campuran bahan sintetis. Kulitnya dipesan langsung dari pabrik terpercaya,” kata Zeru Hidayati, pemilik UMKM tersebut.

“Kami ingin menunjukkan bahwa pelaku UMKM lokal juga bisa memproduksi barang yang tidak kalah kualitasnya dengan merek besar,” ujarnya penuh semangat.

Produk Lokal dengan Sentuhan Kelas Premium

Meski berbasis usaha mikro, Zeru mampu menghasilkan produk dengan standar tinggi. Harga yang ditawarkan pun sebanding dengan kualitas yang diberikan. Dompet dibanderol Rp 95 ribu – Rp 175 ribu, tas Rp 250 ribu – Rp 300 ribu, dan sepatu Rp 385 ribu – Rp 465 ribu.

“Setiap harga yang kami tetapkan tidak asal pasang. Kami memperhitungkan bahan baku, tingkat kerumitan pengerjaan, hingga ketahanan produk,” jelas Zeru kepada wartawan Radar Kediri.

Salah satu produk andalannya adalah sepatu pantofel. Bahkan, Zeru mengaku rutin menerima pesanan sepatu untuk anggota Paskibraka Kabupaten Kediri sejak tahun 2023 dan 2024, serta kemungkinan besar akan berlanjut di 2025.

Penjualan Menembus Pasar Luar Pulau

Menariknya, meski skala usahanya masih UMKM, produk Zeru telah menjangkau pasar luar Jawa. Pembelinya datang dari berbagai daerah, seperti Papua, Sulawesi, Jakarta, Sidoarjo, hingga Blitar. Ini membuktikan bahwa kualitas bisa berbicara tanpa harus bergantung pada nama besar.

Di ajang Kuno Kini Fest 2025 sendiri, antusiasme pengunjung terhadap produk Zeru terbilang tinggi. “Dompet paling laku. Dalam dua hari ini, sudah terjual lima buah,” ungkapnya.

“Harga yang terjangkau dan kualitas bahan menjadi daya tarik tersendiri. Banyak pengunjung yang tertarik setelah memegang langsung bahannya,” tambah Zeru.

Momen Berharga Bagi UMKM Lokal

Kehadiran Disdag Kabupaten Kediri dalam Kuno Kini Fest 2025 menjadi bukti dukungan nyata pemerintah daerah terhadap pelaku UMKM. Tak sekadar memamerkan produk, stan Disdag juga menjadi wadah edukasi dan promosi bagi masyarakat mengenai potensi produk lokal.

Bagi Zeru, acara ini menjadi momen penting. “Festival seperti ini bikin kami makin semangat. Bisa mengenalkan produk ke lebih banyak orang, sekaligus belajar dari UMKM lain,” tutup pengusaha asal Sidoarjo itu dengan antusias.

UMKM Naik Kelas, Daerah Ikut Terangkat

Partisipasi aktif Disdag dalam Kuno Kini Fest 2025 bukan hanya sekadar formalitas. Ini adalah bagian dari upaya nyata menjadikan UMKM sebagai pilar ekonomi daerah. Dengan pembinaan dan panggung promosi yang tepat, UMKM bisa naik kelas dan membawa nama Kabupaten Kediri semakin dikenal luas.

Karena sejatinya, kemajuan UMKM adalah cerminan dari kuatnya ekonomi lokal.(RED.AL)

KUR BRI 2025: Solusi Pembiayaan Ringan untuk UMKM, Proses Mudah dan Limit Besar

   


KEDIRI,  mataperistiwa.my.id – Di tengah tantangan ekonomi yang dinamis, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memerlukan dukungan pembiayaan yang stabil, aman, dan terjangkau. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, pemerintah melalui PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk kembali menghadirkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) 2025 yang lebih fleksibel, ringan, dan mudah dijangkau oleh masyarakat.

KUR BRI 2025 menjadi angin segar bagi pelaku UMKM yang ingin mengembangkan usahanya tanpa terbebani bunga tinggi. Program ini menawarkan plafon pinjaman hingga Rp 500 juta, tenor panjang hingga 5 tahun, serta bunga rendah yang sangat kompetitif.

“Program ini merupakan bentuk nyata komitmen pemerintah dan BRI dalam mendukung pertumbuhan sektor UMKM di Indonesia,” terang perwakilan BRI Kediri.

Limit Besar, Angsuran Ringan, Proses Cepat

KUR BRI 2025 hadir dalam beberapa kategori, mulai dari Supermikro, Mikro, hingga KUR Kecil. Masing-masing disesuaikan dengan kebutuhan dan skala usaha debitur. Dengan angsuran yang ringan dan skema pembayaran fleksibel, program ini memudahkan pelaku usaha mengatur arus kas dan perencanaan bisnis jangka panjang.

Suku bunga yang dikenakan juga tergolong sangat terjangkau:

  • KUR Supermikro: 3% efektif per tahun (plafon sampai Rp 10 juta)

  • KUR Mikro: 6-9% efektif per tahun (plafon Rp 10 juta–Rp 100 juta)

  • KUR Kecil: 6-9% efektif per tahun (plafon Rp 100 juta–Rp 500 juta)

Sektor produksi seperti pertanian, perikanan, peternakan, dan perkebunan (4P) juga mendapat prioritas, dengan plafon maksimal hingga Rp 400 juta.

Syarat Pengajuan Mudah, Bisa Online Lewat BRImo

BRI terus meningkatkan kemudahan dalam proses pengajuan KUR. Kini, masyarakat bisa mengajukan pinjaman langsung dari rumah melalui aplikasi BRImo, tanpa harus antre ke kantor cabang.

Berikut langkah-langkah pengajuannya:

  1. Login ke BRImo dan pilih menu “Pinjaman BRI”

  2. Klik “Ajukan Baru” dan pilih jenis pinjaman “Kredit Modal Kerja”

  3. Isi formulir dan unggah dokumen yang dibutuhkan

  4. Setujui syarat dan ketentuan, lalu klik “Kirim Pengajuan”

  5. Pantau prosesnya lewat fitur “Lacak Pengajuan”

Adapun syarat yang perlu disiapkan antara lain:

  • Surat Keterangan Usaha yang sah

  • KTP & Kartu Keluarga

  • Usaha minimal 6 bulan berjalan

  • Tidak sedang menerima kredit produktif di lembaga keuangan lain

  • NPWP (jika tersedia)

  • Riwayat kredit yang baik

  • Rekening aktif BRI

  • Untuk pinjaman di atas Rp 100 juta, wajib menyertakan agunan

“Kami menyarankan agar calon debitur mempersiapkan dokumen dengan lengkap dan jujur agar prosesnya cepat dan lancar,” tambah petugas layanan KUR di BRI Cabang Kediri.

Dorong UMKM Naik Kelas, Pemerintah Gandeng BRI

KUR BRI 2025 bukan hanya soal pinjaman, tapi juga menjadi alat pemberdayaan ekonomi lokal. Banyak pelaku usaha mikro yang berhasil memperluas bisnisnya, menambah tenaga kerja, bahkan mulai ekspansi ke luar daerah setelah mendapat dukungan modal dari KUR.

Pemerintah berharap, melalui program ini, UMKM di Kediri dan daerah lain bisa tumbuh lebih cepat dan berkelanjutan. Karena sejatinya, UMKM adalah tulang punggung ekonomi Indonesia.

Jadi, bagi kamu yang sedang mencari modal usaha dengan bunga ringan dan proses mudah, KUR BRI 2025 bisa menjadi solusi terbaik. Yuk, manfaatkan kesempatan ini dan kembangkan bisnismu sekarang juga!

(RED.AL)

Sketsa Kehidupan Santoso: Dari Yatim Piatu Jadi Seniman yang Karyanya Dihargai Belasan Juta

    


KEDIRI, mataperistiwa.my.id   – Di sudut arena Festival Kuno Kini, di bawah payung sederhana dan lapak berukuran 2x2 meter, duduk seorang pria bersahaja bernama Santoso. Mengenakan kaus oblong biru muda dan luaran baju lurik hijau-krem, ia tampak tekun melayani pengunjung yang ingin wajah mereka dituangkan dalam bentuk sketsa.

“Saya sudah di sini dari jam sebelas siang, nanti sampai jam sepuluh malam,” katanya sambil terus menggoreskan pensil di atas kertas putih.

Sketsa bukan sekadar karya bagi Santoso. Ini adalah jalan hidup yang ia pilih dan tekuni selama hampir dua dekade. Sejak tahun 2005, pria asal Kelurahan Tamanan, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri ini telah mendedikasikan waktunya untuk menggambar, memahat, dan menuangkan imajinasi ke dalam bentuk visual.

“Saya tidak tahu apakah ini bakat turunan atau bukan. Sejak kecil saya sudah yatim piatu. Tidak sempat mengenal siapa orang tua saya sebenarnya,” ucapnya pelan. Matanya menerawang sejenak, lalu kembali menunduk menatap kertas gambar.

Kesedihan masa kecil tak membuat Santoso tenggelam. Justru dari kekosongan itulah ia membangun semangat untuk terus belajar. Dunia seni menjadi tempatnya berteduh, mengekspresikan luka, dan menyusun harapan.

Ketertarikannya mulai tumbuh saat duduk di bangku SMP, ketika ia bergabung dengan ekstrakurikuler menggambar. Sejak saat itu, pensil dan kertas seperti sahabat sejatinya. Proses belajar pun dilakukannya secara otodidak hingga SMA.

“Gambar wis dadi hobiku. Tapi saya terus belajar. Bahkan dari komplain pelanggan sekalipun, saya anggap itu guru terbaik,” ujarnya sambil tersenyum.

Kini, karya-karyanya tak hanya menjadi kenangan bagi para pelanggan di berbagai acara. Beberapa bahkan laku hingga belasan juta rupiah, terutama karya-karya sketsa potret atau lukisan realis ukuran besar yang memerlukan ketelitian dan waktu pengerjaan lebih dari sepekan.

“Ada yang minta lukisan keluarga besar dalam satu kanvas besar. Biasanya saya kerjakan di rumah. Harganya bisa sampai lima belas juta,” bebernya.

Namun di balik kesuksesannya, Santoso tetap rendah hati. Ia tak pernah menganggap dirinya ahli, apalagi sempurna. Ia justru terus membuka diri untuk belajar dari siapa saja.

“Bagi saya, belajar itu gak kenal umur. Selama masih hidup, ya terus belajar. Wong urip kui kudu nduweni semangat,” ucapnya mantap.

Dalam dunia yang serba cepat ini, Santoso menjadi pengingat bahwa ketekunan, kesabaran, dan kesungguhan bisa membawa seseorang keluar dari kesunyian menjadi sosok yang dihargai.

Kini, setiap goresan yang ia torehkan di atas kertas bukan hanya membentuk wajah atau bentuk. Tapi juga menyimpan kisah – tentang kehilangan, perjuangan, dan harapan yang tak pernah padam.(RED.AL)

Festival Kuno-Kini SLG Diserbu Pengunjung, Panitia Tegas Tindak Stan Nakal demi Jaga Kepercayaan

    


KEDIRI,  mataperistiwa.my.id – Antusiasme masyarakat terhadap Festival Kuno-Kini di kawasan Monumen Simpang Lima Gumul (SLG) terus meningkat. Meski festival baru akan berakhir pada Minggu (1/6), pengunjung sudah membanjiri lokasi sejak pagi hingga malam. Tak hanya datang untuk mencicipi kuliner jadul dan kekinian, pengunjung juga menikmati pertunjukan seni, permainan tradisional, dan beragam aktivitas menarik lainnya.

Namun di balik kemeriahan itu, panitia tidak lengah. Demi menjaga kenyamanan dan kepercayaan publik, penyelenggara langsung turun tangan merespons keluhan soal harga yang dinilai tidak wajar. Salah satunya dengan mewajibkan setiap stan mencantumkan daftar harga yang jelas.

“Kami tidak ingin pengunjung merasa tertipu atau tidak nyaman. Semua stan harus transparan soal harga. Kami juga sudah mendirikan posko pengaduan agar pengunjung bisa melapor jika ada dugaan kecurangan,” tegas Puspitorini Dian Hartanti, 

Dian menyebut, pihaknya juga telah menindak satu stan yang terbukti melakukan promosi menyesatkan. Stan tersebut ditutup sementara dan hanya diizinkan beroperasi kembali setelah mematuhi aturan panitia. Langkah ini diambil agar Festival Kuno-Kini tetap menjadi ruang yang adil bagi semua pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) dan nyaman bagi pengunjung.

“Kami tegaskan bahwa prinsip utama festival ini adalah menghadirkan hiburan sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat. Jadi tidak boleh ada yang memanfaatkan situasi untuk merugikan orang lain,” lanjut Dian.

Festival ini memang menjadi ajang yang ditunggu-tunggu masyarakat Kediri dan sekitarnya. Data panitia menunjukkan, pada hari ketujuh saja (Kamis, 29/5), sebanyak 6.325 pengunjung tercatat masuk melalui tiga pintu utama sejak pagi hingga sore. Jumlah itu diperkirakan meningkat drastis di malam hari, terlebih dengan momentum long weekend yang dimanfaatkan banyak keluarga untuk liburan hemat.

Tak heran, beberapa penjual mengaku kewalahan melayani pelanggan. Legiman, penjual rambut nenek asal Gurah, mengatakan bahwa permintaan selama festival jauh lebih tinggi dari biasanya.

“Kalau hari biasa cuma habis tiga kilo gula, di festival ini saya bisa habiskan lima kilo per hari. Alhamdulillah selalu habis. Harga tetap lima ribu, nggak kami naikin,” ucapnya sembari melayani pembeli.

Begitu juga dengan Rio Hardianto, penjual es jeruk peras. Ia menyayangkan adanya isu yang menyebut harga jeruk peras di festival terlalu mahal.

“Harga sama seperti di luar, mulai Rp 10 ribu. Kami pakai jeruk Sunkist asli, tanpa air tambahan, tanpa gula. Jadi murni, bukan es biasa. Kalau dibandingin sama jeruk biasa ya beda,” jelas Rio.

Pengunjung festival pun dimanjakan dengan banyak pilihan makanan dan minuman dari 257 stan UMKM yang berpartisipasi. Tak hanya jajanan zaman dulu, tapi juga kuliner kekinian dan minuman viral.

Selain itu, ada panggung hiburan utama dan panggung mini di area selatan yang menyuguhkan pertunjukan seni budaya lokal. Di berbagai sudut, anak-anak tampak antusias bermain congklak, egrang, dan permainan tradisional lain yang kini mulai jarang ditemui.

Festival Kuno-Kini digelar sejak 23 Mei lalu dan akan ditutup pada 1 Juni 2025 mendatang. Dengan semangat kolaborasi dan kontrol yang ketat, panitia berharap event ini bisa menjadi contoh penyelenggaraan kegiatan publik yang tidak hanya meriah, tetapi juga tertib, aman, dan berpihak pada pengunjung serta pelaku UMKM.

“Kami ingin Festival Kuno-Kini tidak hanya jadi tempat belanja dan hiburan, tapi juga ruang edukasi dan nostalgia. Kalau kepercayaan pengunjung hilang karena ulah oknum pedagang, maka tujuan itu akan gagal. Jadi kami tidak akan ragu bertindak tegas,” pungkas Dian.(RED.AL)

Viral Video Erupsi Gunung Kelud: BPBD Kediri Tegaskan Hoaks dan Peringatkan Sanksi Hukum Tegas

    


KEDIRI, mataperistiwa.my.id  – Menjelang pelaksanaan puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), jemaah haji asal Kabupaten Kediri terus mempersiapkan fisik dan mental. Namun, suasana haru dan semangat beribadah itu mulai diwarnai kekhawatiran. Pasalnya, beredar edaran resmi dari otoritas Arab Saudi yang menyatakan bahwa keberangkatan jemaah ke Arafah akan dilakukan berdasarkan syarikah—tanpa memperhatikan kelompok rombongan seperti yang disusun sejak dari tanah air.

Situasi ini menimbulkan keresahan di kalangan jemaah lansia dan risiko tinggi (risti), terutama yang khawatir berangkat tanpa didampingi pembimbing ibadah. Salah satunya adalah Arifin, jemaah asal Desa Puhsarang, Kecamatan Semen, yang mengaku waswas.

“Kami betul-betul khawatir nanti saat wukuf di Arafah tidak ada yang membimbing kami. Padahal itu adalah momen puncak ibadah,” ujar Arifin, Kamis (29/5).

Kondisi semakin tidak menentu dengan terpisahnya penginapan jemaah di beberapa hotel berbeda. Salah satunya dialami Trubus, jemaah asal Badas, yang kehilangan kontak dengan istrinya karena ditempatkan di hotel berbeda.

“Tolong carikan istri saya, Pak. Ini saya di hotel 1005, saya tidak tahu istri saya diturunkan di mana,” keluhnya.

Selain soal penempatan, banyak jemaah juga belum menerima koper mereka, karena sistem pengiriman barang dilakukan secara acak ke sejumlah hotel. Hal ini membuat jemaah harus mencari koper masing-masing secara mandiri, sesuatu yang cukup melelahkan menjelang Armuzna.

Di tengah segala ketidakpastian itu, Direktur Multazam Alhadi Tour and Travel, Syamsul Hadi yang akrab disapa Abah Syamsul, terus melakukan pembinaan spiritual. Ia memimpin doa bersama di hotel tempat jemaah menginap sebagai bentuk persiapan mental dan spiritual menjelang wukuf.

“Doa bersama ini untuk menguatkan hati dan pikiran jemaah. Wukuf di Arafah adalah momen sakral, di mana semua doa-doa dikabulkan oleh Allah SWT,” terang Abah Syamsul.

Abah Syamsul juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan menjelang puncak ibadah. Ia meminta jemaah cukup istirahat, memperbanyak zikir, dan menjauhi larangan-larangan ihram selama berada di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

“Kami akan terus mendampingi jemaah, baik secara langsung maupun dengan koordinasi antarpembimbing. Setiap langkah akan kami pantau, agar jemaah tidak merasa sendirian,” tegasnya.

Meskipun penuh tantangan, para jemaah tetap berharap bisa menjalani prosesi puncak haji dengan lancar dan khusyuk. Namun, fakta bahwa manifest keberangkatan hanya berdasarkan syarikah—bukan rombongan yang dibentuk sejak awal—dinilai banyak pihak berpotensi mengganggu kelancaran ibadah, terutama bagi jemaah lansia yang sangat bergantung pada arahan pembimbing.

“Kami harap ada penyesuaian dari otoritas penyelenggara haji, agar jemaah tetap bisa bersama pembimbingnya saat puncak ibadah. Karena pembimbing bukan hanya urusan teknis, tapi juga penguat mental dan spiritual,” ujar salah satu petugas haji.

Dalam suasana haru, semangat dan doa tetap mengalir. Jemaah dari Kediri pun terus berharap agar dapat menjalani prosesi puncak haji dengan tenang, tertib, dan mendapat haji mabrur, meski di tengah tantangan sistem dan kebijakan baru dari otoritas Arab Saudi.(RED.AL)